Rabu, 18 Mei 2016

Menemukan Indonesia [1]: "Mesakke Bangsaku" World Tour

c3753999-f6ca-477a-93a6-0978c85057f2
detail buku di sini



Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun. 

Tur 20 Kota di Dunia
Buku ini dibuka dengan sebuah ikhtisar yang mengundang; mengundang para penyuka perjalanan untuk menyimak catatan Pandji dan tim ke dua puluh kota; delapan negara; empat benua, hanya dalam satu tahun. [FYI: 20 kota tersebut adalah Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, & San Fransisco.]

Menemukan Indonesia ini menjadi berbeda dengan kebanyakan buku catatan perjalanan karena di dalamnya merekam "tour" stand up comedy Pandji yang berjudul "Mesakke Bangsaku". Kita tidak hanya diajak untuk menikmati suasana kota, menemukan hal menarik, sesuatu yang khas, lokasi hotel, lokasi tempat belanja, sistem transportasi, cara pengurusan visa, hingga masalah toilet.


Ya, tidak hanya itu. Sembari berjalan-jalan sepanjang buku ini, kita juga diketuk untuk sama-sama mempelajari arti menjadi orang Indonesia: karakter, kekuatan, dan kekurangan, juga keunikan kita. Ini sejalan dengan spirit yang tersirat dari judul buku ini dan juga judul stand up comedy "Mesakke Bangsaku". (Tentang hal ini akan ada postingan khusus di Menemukan Indonesia [2]).


Dari Transportasi ke Toilet
Pandji menulis bahwa “Mesakke Bangsaku World Tour” ini bukan tur yang mewah. Semua serbaseadanya. Mereka belum seperti Mariah Carey yang bisa menutup hotel satu lantai hanya untuk dia dan rombongan (hal. 206). Namun, justru berangkat dari inilah banyak keseruan muncul, dari pilihan tempat menginap sampai bagaimana menyiasati anggaran dan menekan pos-pos pengeluaran tertentu.

Hal yang detail dituliskan Pandji dari setiap kota [tentu saja selain tentang stand up] adalah tentang transportasi dan toilet. Ya, toilet!

Tentang transportasi, Pandji dengan cerdas membandingkan antara kota yang satu dengan yang lain, dari fasilitasnya sampai ke sistemnya. Bahkan ia membuat semacam rangkuman yang sangat informatif: kalau bisa menguasai yang di Singapura, Anda siap naik Mass Rapid Transit di mana pun di dunia ini (hal. 157).

Dan tentang toilet, Pandji mencatatnya dengan baik, dari yang paling jorok sampai yang membuat dirinya dan istrinya terpesona sampai ingin foto-foto. Bahkan ketika menceritakan perjalanannya selama di Tokyo, dia menuliskan tentang toilet dengan sangat detail. Dia juga memasukkan toilet sebagai materi stand up. Coba saja Mas Pandji itu bikin buku jurnal tentang toilet-toilet di seluruh dunia, pasti laris diserbu para pejalan atau backpacker. hehehe.


Tautan
Keseruan yang lain adalah cara Pandji menuturkan perjalanannya bersama tim. Ia membuat asosiasi atau tautan antara peristiwa satu dengan yang lainnya, antara data satu dengan yang lainnya, bahkan banyolan satu dengan banyolan lainnya.

Misalnya, ketika bercerita tentang jumlah penduduk Singapura, ia menyebutnya dengan "negara kecil yang jumlah penduduknya tidak lebih banyak dari followers Raditya Dika". Sebuah bilangan akan sulit diingat, tetapi dengan "menggunakan" Raditya Dika, sebuah gambaran segera melekat.

Atau, ketika ia dan rombongan sedang berada di Sydney. Sydney memiliki peraturan yang melarang menyertakan anaknya di dalam mobil kalau anaknya tidak menggunakan baby chair. Dendanya besar. Oleh karena itu, di sana banyak ayah yang menggendong baby chair di punggungnya. Pandji bilang "seperti Kakek Kame Sennin dalam Dragon Ball."

Atau, untuk memberikan gambaran tentang Melbourne, ia menulis: "Kalau Sidney mengingatkan akan Jakarta, Melbourne betul-betul memberi kesan 'Bandung banget'."

Selain itu, ada juga yang gaya penceritaannya "usil", misalnya ketika ia ke Brisbane, tepatnya ke Warner Bross Movie World, dan menonton parade karakter di sana (hal. 106).
Saya pernah ke sini bersama Gamila, Dipo, dan Shira. Dipo superbahagia dengan parade tersebut karena dia sempat fist bump dengan Batman, yang berparade dengan kendaraan dalam film The Dark Knight, “The Tumbler”.
Sedangkan para ayah tampaknya cukup bahagia dengan karakter Catwoman, yang berjalan selama parade dengan lateks ketat dan pecut yang dia mainkan.

Hehehe, subjeknya lho langsung diganti menjadi "para ayah". ^_^

***

Masih banyak keseruan lainnya di buku ini, tetapi jelas tidak seru kalau semuanya dibuka di sini.

Yang tidak terlalu tampak menonjol diceritakan adalah interaksinya dengan orang-orang asli atau penduduk kota yang dia datangi. Hal itu mungkin karena waktunya yang sangat singkat dalam perjalanan dan kesibukan tim mempersiapkan stand up. Bahkan ulasan kulinernya pun tidak terlalu detail mungkin memang bukan itu fokus buku ini. Foto-fotonya mantaff, tetapi karena tidak ada caption, ada beberapa foto yang menurut saya kurang "bicara" [atau mungkin sengaja begitu :D].

Kelebihan Pandji adalah dalam hal delivery dan story telling. Jadi, untuk saya buku ini termasuk (meminjam ungkapan Franz Kafka dalam suratnya kepada temannya Oskar Pollack setelah membaca sebuah diari puisi): the kind of books that wound and stab us. "Kena deh" ... Hehehe.  

>>>>> Baca juga: Menemukan Indonesia [2]

Tidak ada komentar :

Posting Komentar