Rabu, 18 Mei 2016

Menemukan Indonesia [2]: Mengenal Potensi

.... [semacam] lanjutan dari Menemukan Indonesia [1]

c3753999-f6ca-477a-93a6-0978c85057f2
detail buku di sini


Sembari berjalan-jalan sepanjang buku ini, kita juga diketuk untuk sama-sama mempelajari arti menjadi orang Indonesia: karakter, kekuatan, dan kekurangan, juga keunikan serta potensi kita. Ini sejalan dengan spirit yang tersirat dari judul buku ini dan juga judul stand up comedy "Mesakke Bangsaku".

Pandji membuat perbandingan antara Indonesia dengan kota-kota yang dikunjunginya pada titik-titik yang krusial. Poin inilah yang membuat catatan perjalanan ini menjadi berbeda.



London & Keragaman
Mengenai keragaman, misalnya, London menjadi pembanding. Penduduk kota London sangat beragam. Jika dikelompokkan secara etnis, selain orang Inggris sendiri, di London juga ada orang Bangladesh, Tiongkok, Ghana, Yunani, India, Irlandia, Jamaika, Nigeria, Jepang, Pakistan, dan Turki. Di wikipedia.com dikatakan lebih dari 300 bahasa digunakan di kota ini. Wiiihhh ... (hal. 142).

Apa yang dibawa oleh keragaman tersebut untuk London? Hasil studi dan riset atas 240 perusahaan start-up di London menunjukkan bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Jadi, warga London tidak hanya beragam, tetapi juga bersedia bekerja sama dalam perbedaan.

Indonesia? Indonesia jelas beragam, Bhinneka Tunggal Ika, bukan? Namun, bagaimana kita memahami, merangkul, dan mengakomodasi perbedaan agar menjadi kekuatan besar bagi warganya? Hhhmmm ... food for thought. 

Australia & Infrastruktur
Perihal infrastruktur seperti taman kota, transportasi, dan perpustakaan, Australia yang apik dan teratur dijadikan tempat belajar. Selain kemacetan (terutama di Jakarta), trotoar menjadi hal yang disorot tajam.

Di banyak tempat, kita saksikan sendiri, trotoar beralih fungsi, tidak lagi menjadi "kemewahan" pejalan kaki (dan pengguna kursi roda). Bahkan untuk menghindari macet, sering kali motor-motor dengan sigap naik saja ke trotoar (ingat aksi Daffa dan sepedanya?).

[Tambahan dari saya —>] Tapi, tentu saja tidak semua kota dan tempat begitu. Ada kota-kota yang pemimpinnya peduli dengan para pejalan kaki dan trotoar. Bandung salah satunya. Saya belum pernah ke sana sih hehe, tetapi banyak cerita dan ada teman yang baru saja bertualang ke Bandung dan dia bilang "Bandung memang juara". Trotoarnya bersih dan lega. Taman kotanya fungsional. Bahkan ada dispenser gratis di balai kota dengan air siap minum. Inspiratif dan harus ditularkan.

Jepang & Ekonomi Kreatif
Intinya adalah bagaimana kreativitas bisa membawa Indonesia mendunia, bagaimana kita menawarkan sesuatu kepada dunia, tidak selalu menjadi pasar.

Biasanya, penghalang utama orang Indonesia dalam meyakini kemampuan kita untuk bersaing secara global adalah bahasa. Biasanya, orang berpikir, karya kita harus disuguhkan dalam bahasa Inggris agar bisa bersaing.
          Padahal, dampak dari apa yang dilakukan Jepang (dan Korea Selatan belakangan ini) membuktikan sebaliknya. Banyak orang di Indonesia mengonsumsi karya orang Jepang yang dari awalnya sebenarnya dibuat dalam bahasa Jepang. Namun, karena sangat populer, karya tersebut dialihbahasakan dan didistribusikan ke seluruh dunia.
          Bahkan dalam beberapa kasus tertentu, orang Indonesia mengonsumsi plek-plekan sebuah karya yang disuguhkan dalam bahasa Jepang. Mereka pun belajar bahasa Jepang demi bisa lebih menikmati karya tersebut. (hal. 272)

[Tambahan dari saya —>] Jadi ingat film Real Steel. Di film itu ada adegan Max Kenton (si anak) dengan brilian memecahkan masalah ketika ayahnya tidak bisa menjalankan robot petinju dari Jepang yang baru saja dibelinya karena si robot belum disetel dalam bahasa Inggris. Max tiba-tiba memberikan kode kepada si robot dalam bahasa Jepang. Dan taraaaa ... si robot pun bergerak mengikuti perintah Max. Ayahnya bertanya, "Barusan itu bahasa Jepang? Dari mana kamu belajar bahasa Jepang?" Max dengan ringan menjawab, "Video game!"

Ahhaaa ...

Di sinilah orang Indonesia suka salah paham. Banyak yang berpikir untuk membuat karya dalam format yang bisa dikonsumsi dunia agar karyanya bisa mendunia. Padahal, Jepang mengajarkan, berkarya saja sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya, dan fokus pada membangun reputasi. (hal. 272)
Ada ide? Atau, teringat sesuatu?

***

Masih ada hal-hal lain yang disentuh Pandji untuk menjadi pembelajaran kita bersama. Tentang budaya, tentang ekonomi, tentang kebebasan, tentang pendidikan, tentang berdamai dengan masa lalu.

Buku ini dan Mesakke Bangsaku World Tour membawa misi, mengenalkan dan mengenal kembali Indonesia, kemudian bertanya kepada diri sendiri: seperti apakah Indonesia yang selama ini saya kenal?

Ada satu dua bagian yang menurut saya pembahasannya kurang berimbang, tapi tetap saja saya angkat topi untuk penulisnya. Menemukan Indonesia adalah perwakilan bahwa (lagi-lagi mengutip Franz Kafka): A book must be the axe for the frozen sea inside us. Menggugah. ^_^


Tidak ada komentar :

Posting Komentar