Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

90 Days Project — FYI: Daun Gulai

#rupa-rupa

Daun gulai juga biasa dikenal dengan nama daun kari. Atau di tempat lain, ada yang menyebutnya daun koropelik atau daun salam koja atau daun temuru.

Waktu kecil, saya mengenal daun kari pertama kali dari almarhum Mbah Putri saya yang tinggal di Weleri. Setiap Lebaran tiba, dan kami berlibur ke sana, Mbah Putri selalu memasak untuk kami bandeng bumbu acar yang dimasak dengan daun kari. Di daerah Semarang dan sekitarnya sepertinya banyak menu seperti ini. Sejak Mbah Putri meninggal, selama bertahun-kami tahun tidak bertemu lagi dengan bandeng bumbu acar yang bertabur daun kari.

Sampai bertahun-tahun kemudian, kami mendapat oleh-oleh dari keluarga di Semarang bandeng bumbu acar, lengkap dengan daun karinya. Saya pun minta dibawakan sekalian bibitnya. Sampai sekarang bibit pohon kari itu tumbuh subur di rumah.




Ukuran daun kari lebih kecil daripada daun kemangi. Permukaan daun kari lebih halus dan lebih mengkilap, dan daunnya pun lebih tebal. Aroma daun kari sangat kuat dan khas. Jika dipelihara dengan baik, katanya pohon kari bisa mencapai tinggi lebih dari 5 meter. Bunganya putih berkelompok; buahnya berwarna hijau dan ungu.

Tidak seperti daun jeruk yang kesegarannya bertahan lama meskipun sudah dipetik, daun kari lebih mudah layu. Oleh karena itu biasanya saya memetik langsung dari pohonnya ketika hendak memakainya untuk memasak.

Sebagai penggemar masakan bernuansa rempah-rempah, saya suka sekali aroma daun kari. Daun kari ini biasanya dicampurkan dalam masakan kari, laksa, dan gulai. Di keluarga saya, bandeng bumbu acar (bisa juga menggunakan ikan tongkol) biasanya diberi campuran daun kari. Dijamin, makan satu piring tidak akan cukup. Hehehe.

Konon katanya, kacang bangkok yang asli sebenarnya tidak dibuat dengan campuran daun jeruk, melainkan dengan daun kari. Tapi saya belum pernah mencoba memasaknya. Semoga kapan-kapan. ^_^

Minggu, 14 Desember 2014

90 Days Project — Warung Apung yang Tak Lagi Mengapung

*kuliner

Beberapa tahun yang lalu, warung apung Rawa Jombor Klaten, sangat dikenal. Rawa tersebut berada di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, dan menjadi kawasan potensial. Belasan tahun yang lalu, Rawa Jombor menjadi objek wisata kuliner yang banyak sekali dikunjungi. Saya waktu itu termasuk yang sering ke sana bareng teman-teman.

Di salah satu sisi rawa, dari ujung ke ujung penuh berjajar warung apung yang selalu ramai, apalagi waktu malam hari. Saya pernah merayakan tahun baru di warung apung bersama teman-teman. Tak terkira ramainya. Pengunjungnya banyak nian. Saya, yang ilmu berenangnya hanya cetek, benar-benar parno warung itu bakalan tenggelam karena kelebihan beban. Hahaha.

Konsep warung apung yang bahan bangunannya didominasi kayu dan bambu menjadi daya tarik tersendiri. Kita harus naik rakit untuk bisa sampai ke warung. Dan karena warungnya mengapung (benar-benar mengapung), ketika kita menginjakkan kaki ke warung, akan sangat terasa warung itu bergoyang.


http://yogyakarta.panduanwisata.id/files/2012/11/rowo-jombor.jpg

http://yogyakarta.panduanwisata.id/files/2012/11/warung-apung-rowo-jombor.jpg

Minggu kemarin, saya bersama saudara-saudara berkesempatan mengunjungi lagi tempat itu. Banyak sekali yang berubah. Warung sudah tidak sebanyak dan tidak seramai dulu. Menurut berita, tahun kemarin malah debit air di Rawa Jombor berkurang dan warung-warung tidak mengapung lagi. Sayang ya. Tempo hari waktu makan di sana, saya juga mengamati bahwa warung yang kami datangi tidak lagi mengapung. Struktur bangunannya masif. Rawanya memang masih berair dan kami masih harus naik rakit untuk sampai ke warung, tetapi sensasi warung bergoyang sudah tidak terasa lagi.

Sentuhan modern juga sangat terasa, dari adanya aneka mainan anak sampai LCD besar yang menayangkan berbagai lagu masa kini. Bahkan warungnya pun sudah dua lantai.

Meskipun tempatnya kini terlihat lebih bersih dan terawat dibandingkan dulu, saya merindukan suasana waktu itu.

Selasa, 09 Desember 2014

90 Days Project — Memasak Thiwul Sendiri

*kuliner

Thiwul. Siapa yang tidak kenal makanan istimewa khas Wonosari ini. Bagi kami sekeluarga, makanan berbahan dasar singkong ini berterima di  lidah orang serumah. Hehe.

Makan thiwul sih sering. Beli di pasar atau nitip beli sama teman yang rumahnya Wonosari. Tapi, memasak thiwul sendiri? Baru kali ini. Awalnya mencoba memasak menggunakan thiwul instan, tetapi menurut kami, rasa thiwulnya kurang nendang.

Kemudian, kami memasak thiwul sekali lagi, tetapi dari bahan dasarnya, yaitu tepung gaplek. Daaan, saya baru tahu bahwa ternyata tepung gaplek itu murah banget. Satu kilogram cuma 5 ribu rupiah. Itu saja udah jadi 2 piring besar. Memasaknya pun sederhana sekali. Alamat bakal sering-sering memasak thiwul di rumah. :D

Bahan
- 1/2 kilogram tepung gaplek
- 1/2 sdt garam halus
- 2 sdm gula jawa parut (optional, bagi yang lebih suka thiwul gurih, tidak perlu menambahkan gula)
- setengah gelas air hangat
- kelapa (dikupas kulit dalamnya, kemudian diparut melintang. Jika ingin lebih awet, kelapa parut bisa dikukus terlebih dahulu)

Cara memasak
- campurkan tepung gaplek dengan garam, gula jawa (jika suka), dan air hangat. Aduk hingga tercampur.
- kukus selama kurang lebih 20 menit.
- angkat, dan tempatkan dalam wadah
- taburi atau aduk rata dengan kelapa parut

Gampang, kan?
Apalagi musim hujan seperti sekarang, acara ­nge-teh sore-sore bisa jadi lebih seru dengan berteman thiwul. Selamat mencoba. ^_^


Selasa, 02 Desember 2014

90 Days Project — Vegan Cuisine

#kuliner





Mumpung masih dalam rangka belajar menjadi lacto-ovo-vegetarian (vegetarian tetapi masih mengonsumsi telur, susu, dan semua produk turunannya), kemarin ikut makan di Loving Hut Jogja.


Be Vegan,Make Peace


Restoran Loving Hut mulai dijalankan kira-kira enam tahun silam, dan hingga kini jaringannya sudah tersebar di berbagai negara. Dengan misi "menyelamatkan bumi", LH mengajak kita untuk melakukan transisi ke pola makan nabati dan sehat. Hhhmmm ...

Restoran LH yang berlokasi di wilayah kampus Sanata Dharma ini tidak begitu luas sebenarnya, tetapi suasananya begitu homey. Dominasi warnanya kuning cerah, secerah ekspresi para pelayan LH yang ramah. hehehe.


Di salah satu spot di dinding (di belakang mbak-mbak bule yang baru makan itu lho ^_^) dipasang beberapa pigura berisi quote dari para elite vegetarian. Ada satu yang saya ingat. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi kesehatan manusia dan meningkatkan kesempatan untuk bertahan hidup di Bumi selain evolusi menuju pola makan vegetarian (Albert Einstein).

Semua makanan di Loving Hut Express adalah vegan dan tanpa MSG serta menggunakan beras organik dan sayur organik (seasonal). Begitu yang tertulis dalam daftar menunya. Pilihan menu makanan dan minumannya banyak. Kisaran harganya 15.000–37.500. Tetapi dengan paket sayur + nasi (putih atau merah) dan pilihan lauk tertentu, harganya bisa kurang dari 15K.

  
Mie jamur, pesanan teman. Harganya 12K

Nasi merah, dua sayur, & soya asam manis. 17K

Warna sayurnya segar. Teksturnya juga masih renyah. Cocok untuk pilihan variasi makan siang. Hayuuk ke sana lagi. ^_^

Selasa, 18 November 2014

90 Days Project — Rondo Royal

#kuliner


Sebenarnya saya tidak tahu mengapa nama makanan ini adalah rondo royal. Rondo royal sebenarnya adalah tapai singkong goreng. Kalau ini pasti familier, kan?

Dari hasil baca-baca, rondo royal adalah makanan tradisional khas Jepara yang terbuat dari tepung beras dan tapai singkong. Perpaduan rasanya adalah manis dan asam. Namun, di banyak daerah, resep sudah banyak modifikasi. Ibu saya juga sering membuat rondo royal, tetapi tepung yang digunakan bukan tepung beras, melainkan tepung terigu. 

Rondo royal yang saya buat kali ini istimewa karena tapai yang dipakai adalah buatan sendiri (biasanya cuma beli di warung). Sayakah yang membuat tapainya? Tidak seratus persen; belum pede membuat tapai sendiri. Hehe.

Bahan:
1 mangkuk kecil tapai singkong yang sudah dibersihkan seratnya.
1 gelas tepung terigu.
1 sendok gula pasir (sesuai selera, tetapi semakin banyak tambahan gula, semakin mudah gosong waktu digoreng)
garam (sesuai selera)
1 telur (optional)

Cara:
1. Campurkan tepung terigu dengan gula pasir, garam, dan air secukupnya. Aduk rata.
2. Masukkan tapai singkong dan aduk rata.
3. Sendoklah adonan, kemudian goreng dengan minyak panas hingga matang.
4. Rondo royal siap disantap. Cocok untuk teman minum kopi serai susu jahe.

Catatan: ini adalah resep dasar. Ada juga yang memasak rondo royal dengan taburan wijen. Ada juga yang memasak dengan isian meses atau keju.





Senin, 17 November 2014

90 Days Project — Kopi Serai ++

#kuliner

Dulu waktu masih tinggal di Jogja (perasaan sering banget frasa ini muncul ... #gagalmoveon), kalau hawa sedang dingin-dinginnya begini, sering banget malam-malam meluncur ke angkringan Kadipaten (pasar Ngasem ke arah Barat, menuju Taman Sari) mencari yang hangat-hangat. Ini adalah angkringan favorit kami setelah Angkringan Teh Poci Lik Min (daerah Bugisan, di pinggiran Kali Winongo).

Di Angkringan Kadipaten, menu makanannya sih standar seperti angkringan pada umumnya. Tapi ada menu minuman favorit saya, yaitu kopi serai susu jahe. Setiap kali ke sana, minuman itu selalu menjadi pesanan utama. Namun, sejak Angkringan Kadipaten pindah tempat, kami jarang ke sana. Apalagi sejak kami tidak lagi tinggal di Jogja (tuh, kan, muncul lagi).

Akhir-akhir ini, pas hawa lagi dingin-dinginnya begini, saya kangen banget dengan menu Angkringan Kadipaten. Pengen ke sana, tapi kok jauuuh. Akhirnya, kemarin memutuskan untuk membuat sendiri kopi serai susu jahe. Cocok banget diminum saat sering hujan seperti sekarang ini. Kopi susunya menyegarkan. Jahenya menghangatkan dan menolak flu. Serainya menghilangkan capek.

Porsi saya:
- kopi hitam: 1 sdm
- susu kental manis: 2 sdm
- jahe: satu ruas besar (dicuci, dibakar, dikupas, digepuk)
- serai: 1 batang (keprek bagian pangkalnya)
- gula (optional. Saya tidak pakai gula karena saya sudah manis. *timpuk* :D
Maksud saya, susunya sudah manis, jadi tak perlu tambahan gula lagi)  

Meracik:
1. Masukkan kopi, susu, dan jahe ke dalam cangkir.
2. Tuangi dengan air mendidih.
3. Aduk dengan batang serai.
4. Diamkan sebentar supaya jahe dan serai beraksi. *hallah*
5. Kopi serai susu jahe siap dinikmati.

Selamat mencoba.







Minggu, 02 November 2014

90 Days Project — Mentho

#makanan_tradisional

Akhirnya bikin mentho sendiri. Ini pertama kalinya saya memasak mentho.

Mentho adalah jajangan khas dari Jawa Tengah dan berbahan dasar singkong. Biasanya kalau pengin makan mentho, ya beli di warung. Tapi, tempo hari pas lihat singkong berlebih di rumah, tiba-tiba pengin membuat mentho sendiri.

Setelah tanya sana-sini, akhirnya mulai beraksi. Ternyata mudah, ya.

Bahan:
1 kg singkong
1 cangkir kelapa parut
1 ons kacang tolo, rendam, lalu rebus hingga lunak (bisa ditambah jika suka)
Minyak untuk menggoreng

Bumbu halus:
3 bawang putih
garam secukupnya (sesuai selera)

Cara memasak: 
1. Singkong dikupas dan dicuci, kemudian diparut
2. Campurkan singkong parut dengan kelapa parut dan kacang tolo
3. Masukkan bumbu halus, aduk rata.
4. Ambil adonan, dan cetak dengan kepalan tangan.
5. Goreng dalam minyak panas hingga kuning kecokelatan.

1 kilogram singkong bisa jadi kira-kira 2-3 piring mentho. Lumayan, ya. Mur-mer pula.

Rasanya? Gurih dan enak. Saking gurihnya sampai lupa motret. Hadeehhh.

Selasa, 28 Oktober 2014

90 Days Project — Jamur Tiram Krispi

#makanan

Jamur tiram goreng krispi pernah menjadi makanan favorit di rumah. Sering banget saya masak ini. Sampai kemudian lidah orang serumah sudah terlalu terbiasa karena terlalu sering terpapar makanan ini. *hadeh istilahnya*

Sebenarnya saya cuma mau bilang kami sampai pada taraf bosan, hehe. Akhirnya stop masak jamur tiram goreng krispi. Drastis.

Minggu kemarin pas ke warung sama anak lanang dan dia lihat jamur tiram, dia langsung minta dimasakin jamur goreng. Nah lho. Sekian lama berpisah akhirnya bertemu kembali.

Jamur goreng krispi sebenarnya bisa untuk alternatif lauk sarapan karena memasaknya tidak ribet.


Bahan:

- jamur tiram 1-2 bungkus, pilih yang masih segar (tidak lembek)
- minyak goreng
- tepung.
Sebenarnya kalau mau praktis, tepung bumbu bisa menjadi alternatif, tetapi biasanya tepung bumbu ada MSG-nya dan sebisa mungkin saya menghindarinya. Tapi sekarang ada tepung bumbu tanpa MSG, cuma kelihatannya belum banyak dijumpai di supermarket atau warung.
Alternatif lain adalah menggunakan tepung terigu dan tepung beras (1:1) atau sesuai selera. Campurkan dengan lada bubuk, garam halus, dan bawang putih bubuk. Masukkan ke stoples dan kocok-kocok sampai tercampur.

Cara memasak:
1. Cuci bersih jamur tiram dan peras airnya, kemudian suwir-suwir.
2. Masukkan jamur tiram yang sudah disuwir-suwir ke dalam stoples berisi tepung. Kocok-kocok sampai semua suwiran jamur terbalut tepung.
3. Buka stoples, dan pisahkan jamur dengan tepungnya. (Oya, kalau tepungnya sisa, bisa disisihkan untuk membuat adonan mendoan. Ngirit, ya. Hehe)
4. Diamkan jamur tiram sebentar sampai tepung benar-benar menempel. Bisa juga memasukkannya ke dalam lemari es sebentar, katanya bisa menambah renyah.
5. Jamur tiram siap digoreng. Menurut acara memasak di TV, masakan akan lebih awet krispinya jika digoreng dua kali. Saya pernah mencobanya dan memang betul.

Jamur tiram goreng siap disantap bersama cocolan saus atau mayones.




Selasa, 09 September 2014

Perjalanan #3 — In the Middle of Nowhere





Bepergian atau menempuh rute baru hanya berbekal GPS itu rasanya ngeri-ngeri sedap. Berdebar-debar.

Ngerinya adalah kalau pas melewati jalur yang sepi penduduk, hari menjelang malam, dan sinyal kembang kempis. Menegangkan.

Sedapnya adalah pemandangan alam yang amajing jika kita lewat rute-rute tertentu, benar-benar menyegarkan mata. Atau, bertemu manusia-manusia yang meneduhkan hati. Atau, bisa foto-foto selfie sepuasnya. Hehe.

Masalahnya adalah jika kita tidak percaya pada petunjuk yang disediakan. Ketika GPS menunjukkan jalan yang kelihatannya tidak masuk akal—jembatan kayu goyang, jalan “kerbau”, jalan setapak—keraguan seketika muncul. Masa sih jalan seperti itu yang disodorkan kepada kita. Benar-benar tidak percaya, padahal kita tinggal ikuti tanda panah. Belok, ikut belok. Padahal lagi, begitu mencermati kembali G-Map secara keseluruhan, ternyata itu benar-benar rute alternatif terpendek. Semua itu disediakan supaya perjalanan menjadi lebih cepat dan efektif. 

Petunjuk dan kemudahan ada, tetapi rasa tidak percaya membaca itu justru sebagai masalah. Khawatir dan tidak percaya, sangat manusia. Menganggap bahwa petunjuk-petunjuk tak masuk akal itu sebagai tanda tanya besar.

Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana jika tidak ada petunjuk sama sekali?