Tampilkan postingan dengan label friendzone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendzone. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juli 2017

People are ...

#todaywisdom

People are more than just the way they look.
(dari A Wrinkle in Time)

Belakangan ini saya lagi suka banget sama quote itu. People are more than just the way they look. 
Mengingatkan saya untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari penampilannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan (bukan menyembunyikan) banyak hal di balik ketenangannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kepedihan di balik keceriaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kebaikan di balik kecuekannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kemampuan di balik kesederhanaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan cinta yang begitu besar hanya saja tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Ada yang ternyata menyimpan ketulusan besar meskipun tidak ada yang memahaminya.

Everybody has a chapter they don't read out loud.
.
.
.

Jumat, 15 April 2016

Terlukalah Sepenuhnya

Getir sepenuhnya,
terlukalah sepenuhnya,
seperti tak kau lihat lagi matahari esok pagi.

Mengembunlah matamu sampai gerimis seolah kabut mendesakmu hingga sesak,
seperti tak kau temui lagi ruang untukmu bergerak.

Menggeleparlah tanpa malu seolah perih di hatimu meruang di paru-paru lalu mengoyak jantungmu,
seperti sudah tak ada lagi sakit yang lebih menjerit dari itu.

Tergeruslah sepenuh hati seolah serpih-serpihnya justru menembus punggungmu,
terbang mengejekmu,
 lalu memedihkan mata sebelum pulang ke dadamu yang terasa pecah.

Sbab hanya dengan begitu darahmu menulis kalimatnya;
tangismu menemukan maknanya;
dan langkah terseok itu menguat di sana.
Ya?


________________________
Puisi ini adalah kado dari Dina. Ho ho ho. Makasiiiihh. Jangan lelah, pokokmen. ^_^

Kamis, 31 Maret 2016

Broken Crayons Still Color

#monthly.challenge
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat



Anak lanang saya selalu tidak suka mewarnai dengan crayon yang sudah patah, apalagi kalau bungkus kertasnya sudah lepas. Alhasil dia selalu memilih crayon yang masih utuh dan masih dibalut kertas. Setiap kali harus mewarnai dengan crayon-crayon yang patah, terlihat sekali air mukanya tidak antusias. Saya selalu berusaha meyakinkan bahwa crayon yang patah pun masih tetap bisa dipakai, warnanya juga tetap bagus. Dia sering lupa bahwa ada yang namanya penyambung crayon.

***

Monthly challenge bulan ini adalah #friendzone, topik yang sangat menyenangkan. Bagi saya, teman aka sahabat adalah seperti sebuah penyambung crayon. Saat saya patah (kecewa, sedih, putus asa, dan semacamnya), ia menjadi "penyambung crayon"; membuat saya tetap merasa utuh dan berarti. Broken crayons still color. Terima kasih untuk kalian. .... *tetooot .... belum-belum sudah melow*

Saya bukan orang yang pintar berteman, bukan orang yang pintar ngobrol, suka kehabisan kata dan topik, dan sulit curhat. Bahkan ada teman yang "mengatai" bahwa saya itu tidak pernah menyapa; sekalinya menyapa, yang dibicarakan pekerjaan. Wooh, sakitnya tu bukan cuma di sini. Hehehe. Tapiii, lucky me, saya dikelilingi oleh orang-orang yang seru dan menyenangkan, yang benar-benar meminimalkan kekurangan-kekurangan saya. God is good.

Katanya, respect people who find time for you in their busy schedule .... But love people who never look at their schedule when you need them. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, semoga saya juga bisa memberikan waktu dan menjadi penyambung crayon. 

It is okay to be broken, as long as we have friends (or somebody to lean on).  

Minggu, 11 Oktober 2015

Dari Kentut Sampai Rol Rambut



#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
“Kalau kau sudah bisa kentut tanpa merasa bersalah di dekat seseorang, dia adalah saudaramu.” 


Pernah mendengar ungkapan itu? Adalah Arip Syaman yang mengatakan semua itu kepada sahabatnya, Twosocks. Mereka berdua bersahabat dan menjadi teman sejalan yang [dalam pembacaan saya] asyik. Arip Syaman hobi buang gas, bahkan kadang dengan membabi buta, dan Twosocks  menerima kebiasaan ganjil sahabatnya itu dengan tabah (hehehe). Penggalan kisah perjalanan dalam buku The Dusty Sneakers tersebut mengingatkan saya bahwa “sahabat yang ganjil” pun bisa membuat perjalanan (baca: kehidupan) kita ganjil, tetapi menyenangkan, bahkan sangat bisa dinikmati, tidak betul-betul nelangsa (meminjam istilah Twosocks).

Seorang teman di kantor menyampaikan hal yang mirip itu ketika ia melihat teman kami yang lain memakai rol rambut di kantor. Katanya, “Setiap kali melihat ada orang melakukan ‘kebiasaan rumahnya’, aku seperti menjadi bagian hidup orang itu.” Kira-kira begitu.

Dua hal di atas tak serupa, tetapi menyampaikan pesan yang nyaris sama. Sungguh menyenangkan ketika kita menemukan teman dan sahabat yang dengannya kita benar-benar merasa nyaman, bahkan nyaman melakukan hal-hal yang tidak akan kita lakukan di depan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak akan kita ucapkan dengan leluasa di depan orang lain. Kita memilih dia (dan dia memilih kita).

Ada “jenis teman” yang bersamanya kita sanggup melakukan hal-hal besar sekaligus juga hal-hal yang memalukan; teman yang bisa memunculkan sisi terbaik kita, sekaligus sisi terburuk kita (dan kita bahkan tidak merasa malu atau sungkan menunjukkannya). Teman yang bersamanya kita sanggup memaki dan rela dimaki, tetapi kemudian saling menghibur dan saling memeluk.  

Persahabatan kita tidak harus seperti Old Shatterhand & Winnetou yang persabahatannya “diikat dengan darah”. Namun, setidaknya bersamanya kita bisa banyak tertawa dan merayakan hidup. Dan yang juga penting, bersama kita, dia bisa banyak tertawa dan merayakan hidup.

Senin, 22 Desember 2014

90 Days Project — Kejutan untuk Kawan

#friendzone 

Ada seorang kawan yang karena kondisi kesehatannya, ia tidak bisa bebas bepergian ke mana-mana. Kondisinya itu membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal yang dia ingin lakukan. Namun, saya salut untuknya. Ia selalu tersenyum dan tidak ingin orang-orang di sekitarnya tidak bersemangat. Badannya yang sangat mungil menyimpan semangat yang begitu besar.


Natal ini saya ingin sekali memberinya kejutan. Bukan sesuatu yang besar, apalagi luar biasa, tetapi saya berharap banget itu bisa bermanfaat dan menemani hari-harinya. Sayangnya dia tinggal di luar kota, jadi saya hanya bisa mengirimkannya via pos.


Selamat Natal, Nes. Tetaplah bersemangat, Kawanku.

Minggu, 21 Desember 2014

90 Days Project — Berempat


#friendzone

Rasanya ini tulisan pertama tentang kami berempat. Empat perempuan yang menyatakan diri sahabat bagi yang lain. Sahabat yang bersama mereka kami tidak takut berbagi mimpi. Sahabat yang tak pernah berjumpa, tapi tak pernah abai menuang doa. Sahabat yang saling meyakinkan bahwa seorang ibu pun perlu menjadi diri sendiri dan mengejar mimpi.  

Sebenarnya kami pernah bekerja di tempat yang sama meskipun berbeda departemen. Seiring waktu, masing-masing mempunyai pertimbangan dan keputusan yang berbeda, sampai kemudian kami terpisah di empat tempat yang berbeda. Namun, siapa sangka, jarak yang memisahkan justru membuat kami saling menemukan. Jarak yang ternyata malah membuat kami semakin dekat sampai saat ini.

Masing-masing kami adalah seorang ibu dan seorang istri dengan dinamika yang berbeda-beda, tetapi disatukan dalam perjalanan sunyi: menulis. Pertemanan kami membentangkan banyak informasi, kesempatan, dan pembelajaran karena menjadi istri dan ibu, sekaligus memiliki pekerjaan dan menulis, adalah tantangan yang seru.

Yang unik dan saya suka dari pertemanan kami adalah masing-masing kami punya simbol. Simbol yang selalu menjadi inspirasi dan semangat bagi masing-masing dan bagi lainnya. Kupu-kupu, capung, burung kecil, dan pohon. Dan mereka berempat akan memiliki kisahnya sendiri-sendiri.






Senin, 17 November 2014

90 Days Project — Kejutan untuk Teman yang Suka Nulis



#friendzone

Adalah Leni, adik [eh] sekaligus kawan yang senang dan pintar menulis. Dia juga kawan berbagi cerita soal buku dan tulisan. Gadis Nias yang lagi rajin-rajinnya menabung untuk proyek “sama dia” ini rajin sekali mengirimi saya update berita tentang lomba-lomba menulis atau link tulisan-tulisan menarik. 

Beberapa waktu yang lalu dia “menerbitkan” novelnya di Gramedia Writing Project. Saya melihat itu sebagai bentuk sisi lain dirinya karena sehari-harinya ia “sibuk” menjadi penulis di majalah Bahana. Tiba-tiba tebersit pengin memberikan surprise, sesuatu biar dia lebih pede dan lebih rajin menulis novel. 

Hhhmmm, apa ya? Apalagi kalau bukan buku, hehe. 

Selamat ya Len, kau jadi target 90 days project-ku. Haha. Semoga bermanfaat. Semoga novelmu segera dipinang oleh Gramedia dan menemukan rumahnya. Amiiiiinnn.

Love u

Untung sempat motret ^_^

Kamis, 16 Oktober 2014

90 Days Project




Kira-kira akhir September kemarin, seorang teman membagikan postingan yang sangat menarik dari medium tentang “there are 100 days left in 2014”. Leni, terima kasih sudah berbagi. Dalam tulisan itu penulis mengundang kita untuk melakukan sesuatu sebelum 2014 berakhir, there are 100 days left in 2014. What will you do with them? 

Penerapannya bisa sangat bervariasi. Contohnya, postingan di fearbuster tentang “100 Days of Rejection”. Dia membuat 100 permintaan yang dia tahu bakal ditolak. Wiiihhh. Sebuah cara pendewasaan diri yang unik.

Teman saya Leni sudah memulai 100 Days Project-nya. Dan saya memulai proyek 90 Days Project. Pengennya membuat 100 Days Project, tapi 2014 hanya tinggal 3 bulan saja. Hehe.

Proyek ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal bulan ini (Oktober), tapi baru sempat posting sekarang. *alasan* hehe. Idenya sederhana, its about enjoying the new little things. Melakukan hal-hal baru dan sederhana yang belum pernah dilakukan atau yang sudah lama tidak lagi dilakukan. 

Mengapa tergerak ikut membuat proyek akhir tahun? Belajar dari sebuah perjalanan (setidaknya perjalanan saya), perjalanan pulang biasanya lebih diwarnai dengan tidur kelelahan dan melewatkan pemandangan dari sisi lain kendaraan. Pun, mengakhiri tahun biasanya saya lebih banyak santai, sibuk melihat ke belakang, dan berhitung, sering abai bahwa masih ada beberapa hari sampai akhir tahun yang sama berharganya dengan hari-hari lain yang sudah berlalu. Juga supaya saya belajar bagaimana memiliki semangat yang sama besarnya dengan ketika memulai tahun ini. Dan yang terpenting adalah menikmati prosesnya. 

Mengapa “enjoying the new little things? Mencurahkan perhatian pada hal-hal kecil yang tidak mendesak (dan tidak masalah jika tidak dilakukan, apalagi tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan pribadi kita) perlu tekad kuat. Saya yakin ada hal besar yang dibawa bersamanya. Musti dicoba.

Isinya apa saja? Detailnya tentu saja belum tahu karena berusaha mengalir aja. Tapi garis besarnya adalah dekat dengan keseharian. Saya mungkin akan menandainya dengan hashtag tertentu, misalnya:
#mengenal_lebih_dekat
#kuliner
#perjalanan
#keluarga
#friendzone
#buku
#lagu
#skill
#be_wise

Mengapa ada deadline-nya? Mungkin ini adalah efek dari terlalu seringnya bekerja dengan tenggat waktu dan target. #ups. Sebenarnya bukan semata-mata itu. Belajar dari pengalaman, deadline dan target membuat saya lebih fokus, lebih mudah menepis godaan yang membuat saya keluar dari target. Namun, pembelajaran besarnya, di atas semua itu, adalah menepati janji kepada diri sendiri. 

Sanggupkah? Hopefully, yes!
Mazel tov! *tepuk_pundak_sendiri*