#todaywisdom
People are more than just the way they look.
—(dari A Wrinkle in Time)
Belakangan ini saya lagi suka banget sama quote itu. People are more than just the way they look.
Mengingatkan saya untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari penampilannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan (bukan menyembunyikan) banyak hal di balik ketenangannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kepedihan di balik keceriaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kebaikan di balik kecuekannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kemampuan di balik kesederhanaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan cinta yang begitu besar hanya saja tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Ada yang ternyata menyimpan ketulusan besar meskipun tidak ada yang memahaminya.
Everybody has a chapter they don't read out loud.
.
.
.
.
Tampilkan postingan dengan label friendzone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendzone. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Juli 2017
People are ...
Label:
catatan perjalanan
,
friendzone
,
kawan
,
today wisdom
Jumat, 15 April 2016
Terlukalah Sepenuhnya
Getir sepenuhnya,
terlukalah sepenuhnya,
seperti tak kau lihat lagi matahari esok pagi.
Mengembunlah matamu sampai gerimis seolah kabut mendesakmu hingga sesak,
seperti tak kau temui lagi ruang untukmu bergerak.
Menggeleparlah tanpa malu seolah perih di hatimu meruang di paru-paru lalu mengoyak jantungmu,
seperti sudah tak ada lagi sakit yang lebih menjerit dari itu.
Tergeruslah sepenuh hati seolah serpih-serpihnya justru menembus punggungmu,
terbang mengejekmu,
lalu memedihkan mata sebelum pulang ke dadamu yang terasa pecah.
Sbab hanya dengan begitu darahmu menulis kalimatnya;
tangismu menemukan maknanya;
dan langkah terseok itu menguat di sana.
Ya?
________________________
Puisi ini adalah kado dari Dina. Ho ho ho. Makasiiiihh. Jangan lelah, pokokmen. ^_^
terlukalah sepenuhnya,
seperti tak kau lihat lagi matahari esok pagi.
Mengembunlah matamu sampai gerimis seolah kabut mendesakmu hingga sesak,
seperti tak kau temui lagi ruang untukmu bergerak.
Menggeleparlah tanpa malu seolah perih di hatimu meruang di paru-paru lalu mengoyak jantungmu,
seperti sudah tak ada lagi sakit yang lebih menjerit dari itu.
Tergeruslah sepenuh hati seolah serpih-serpihnya justru menembus punggungmu,
terbang mengejekmu,
lalu memedihkan mata sebelum pulang ke dadamu yang terasa pecah.
Sbab hanya dengan begitu darahmu menulis kalimatnya;
tangismu menemukan maknanya;
dan langkah terseok itu menguat di sana.
Ya?
________________________
Puisi ini adalah kado dari Dina. Ho ho ho. Makasiiiihh. Jangan lelah, pokokmen. ^_^
Label:
friendzone
,
manusia yang terbuat dari semangat
,
puisi
Kamis, 31 Maret 2016
Broken Crayons Still Color
#monthly.challenge
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
Anak lanang saya selalu tidak suka mewarnai dengan crayon yang sudah patah, apalagi kalau bungkus kertasnya sudah lepas. Alhasil dia selalu memilih crayon yang masih utuh dan masih dibalut kertas. Setiap kali harus mewarnai dengan crayon-crayon yang patah, terlihat sekali air mukanya tidak antusias. Saya selalu berusaha meyakinkan bahwa crayon yang patah pun masih tetap bisa dipakai, warnanya juga tetap bagus. Dia sering lupa bahwa ada yang namanya penyambung crayon.
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
Anak lanang saya selalu tidak suka mewarnai dengan crayon yang sudah patah, apalagi kalau bungkus kertasnya sudah lepas. Alhasil dia selalu memilih crayon yang masih utuh dan masih dibalut kertas. Setiap kali harus mewarnai dengan crayon-crayon yang patah, terlihat sekali air mukanya tidak antusias. Saya selalu berusaha meyakinkan bahwa crayon yang patah pun masih tetap bisa dipakai, warnanya juga tetap bagus. Dia sering lupa bahwa ada yang namanya penyambung crayon.
***
Monthly challenge bulan ini adalah #friendzone, topik yang sangat menyenangkan. Bagi saya, teman aka sahabat adalah seperti sebuah penyambung crayon. Saat saya patah (kecewa, sedih, putus asa, dan semacamnya), ia menjadi "penyambung crayon"; membuat saya tetap merasa utuh dan berarti. Broken crayons still color. Terima kasih untuk kalian. .... *tetooot .... belum-belum sudah melow*
Saya bukan orang yang pintar berteman, bukan orang yang pintar ngobrol, suka kehabisan kata dan topik, dan sulit curhat. Bahkan ada teman yang "mengatai" bahwa saya itu tidak pernah menyapa; sekalinya menyapa, yang dibicarakan pekerjaan. Wooh, sakitnya tu bukan cuma di sini. Hehehe. Tapiii, lucky me, saya dikelilingi oleh orang-orang yang seru dan menyenangkan, yang benar-benar meminimalkan kekurangan-kekurangan saya. God is good.
Katanya, respect people who find time for you in their busy schedule .... But love people who never look at their schedule when you need them. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, semoga saya juga bisa memberikan waktu dan menjadi penyambung crayon.
It is okay to be broken, as long as we have friends (or somebody to lean on).
Katanya, respect people who find time for you in their busy schedule .... But love people who never look at their schedule when you need them. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, semoga saya juga bisa memberikan waktu dan menjadi penyambung crayon.
It is okay to be broken, as long as we have friends (or somebody to lean on).
Minggu, 11 Oktober 2015
Dari Kentut Sampai Rol Rambut
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
“Kalau kau sudah bisa kentut tanpa merasa bersalah di dekat seseorang, dia adalah saudaramu.”
Pernah
mendengar ungkapan itu? Adalah Arip Syaman yang mengatakan semua itu kepada
sahabatnya, Twosocks. Mereka berdua bersahabat dan menjadi teman sejalan yang
[dalam pembacaan saya] asyik. Arip Syaman hobi buang gas, bahkan kadang dengan
membabi buta, dan Twosocks menerima
kebiasaan ganjil sahabatnya itu dengan tabah (hehehe). Penggalan kisah
perjalanan dalam buku The Dusty Sneakers tersebut
mengingatkan saya bahwa “sahabat yang ganjil” pun bisa membuat perjalanan
(baca: kehidupan) kita ganjil, tetapi menyenangkan, bahkan sangat bisa
dinikmati, tidak betul-betul nelangsa (meminjam istilah Twosocks).
Seorang
teman di kantor menyampaikan hal yang mirip itu ketika ia melihat teman kami
yang lain memakai rol rambut di kantor. Katanya, “Setiap kali melihat ada orang
melakukan ‘kebiasaan rumahnya’, aku seperti menjadi bagian hidup orang itu.”
Kira-kira begitu.
Dua hal di
atas tak serupa, tetapi menyampaikan pesan yang nyaris sama. Sungguh
menyenangkan ketika kita menemukan teman dan sahabat yang dengannya kita
benar-benar merasa nyaman, bahkan nyaman melakukan hal-hal yang tidak akan kita
lakukan di depan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak akan kita ucapkan
dengan leluasa di depan orang lain. Kita memilih dia (dan dia memilih kita).
Ada “jenis
teman” yang bersamanya kita sanggup melakukan hal-hal besar sekaligus juga
hal-hal yang memalukan; teman yang bisa memunculkan sisi terbaik kita,
sekaligus sisi terburuk kita (dan kita bahkan tidak merasa malu atau sungkan
menunjukkannya). Teman yang bersamanya kita sanggup memaki dan rela dimaki, tetapi
kemudian saling menghibur dan saling memeluk.
Persahabatan
kita tidak harus seperti Old Shatterhand & Winnetou yang persabahatannya
“diikat dengan darah”. Namun, setidaknya bersamanya kita bisa banyak tertawa
dan merayakan hidup. Dan yang juga penting, bersama kita, dia bisa banyak
tertawa dan merayakan hidup.
Label:
friendzone
,
hidup
,
kawan
,
manusia yang terbuat dari semangat
,
perjalanan
,
sahabat
Senin, 22 Desember 2014
90 Days Project — Kejutan untuk Kawan
#friendzone
Ada seorang kawan yang karena kondisi kesehatannya, ia tidak bisa bebas bepergian ke mana-mana. Kondisinya itu membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal yang dia ingin lakukan. Namun, saya salut untuknya. Ia selalu tersenyum dan tidak ingin orang-orang di sekitarnya tidak bersemangat. Badannya yang sangat mungil menyimpan semangat yang begitu besar.
Ada seorang kawan yang karena kondisi kesehatannya, ia tidak bisa bebas bepergian ke mana-mana. Kondisinya itu membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal yang dia ingin lakukan. Namun, saya salut untuknya. Ia selalu tersenyum dan tidak ingin orang-orang di sekitarnya tidak bersemangat. Badannya yang sangat mungil menyimpan semangat yang begitu besar.
Natal
ini saya ingin sekali memberinya kejutan. Bukan sesuatu yang besar, apalagi
luar biasa, tetapi saya berharap banget itu bisa bermanfaat dan menemani
hari-harinya. Sayangnya dia tinggal di luar kota, jadi saya hanya bisa
mengirimkannya via pos.
Selamat Natal, Nes. Tetaplah
bersemangat, Kawanku.
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
friendzone
Minggu, 21 Desember 2014
90 Days Project — Berempat
#friendzone
Rasanya ini tulisan pertama tentang kami berempat. Empat
perempuan yang menyatakan diri sahabat bagi yang lain. Sahabat yang bersama
mereka kami tidak takut berbagi mimpi. Sahabat yang tak pernah berjumpa, tapi
tak pernah abai menuang doa. Sahabat yang saling meyakinkan bahwa seorang ibu
pun perlu menjadi diri sendiri dan mengejar mimpi.
Sebenarnya kami pernah bekerja di tempat yang sama meskipun
berbeda departemen. Seiring waktu, masing-masing mempunyai pertimbangan dan
keputusan yang berbeda, sampai kemudian kami terpisah di empat tempat yang
berbeda. Namun, siapa sangka, jarak yang memisahkan justru membuat kami saling
menemukan. Jarak yang ternyata malah membuat kami semakin dekat sampai saat
ini.
Masing-masing kami adalah seorang ibu dan seorang istri
dengan dinamika yang berbeda-beda, tetapi disatukan dalam perjalanan sunyi:
menulis. Pertemanan kami
membentangkan banyak informasi, kesempatan, dan pembelajaran karena menjadi
istri dan ibu, sekaligus memiliki pekerjaan dan menulis, adalah tantangan yang
seru.
Yang unik dan saya suka dari pertemanan kami adalah masing-masing kami
punya simbol. Simbol yang selalu menjadi inspirasi dan semangat bagi masing-masing dan bagi lainnya. Kupu-kupu,
capung, burung kecil, dan pohon. Dan mereka berempat akan memiliki kisahnya sendiri-sendiri.
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
friendzone
,
kawan
Senin, 17 November 2014
90 Days Project — Kejutan untuk Teman yang Suka Nulis
#friendzone
Adalah Leni, adik [eh] sekaligus kawan yang senang dan pintar
menulis. Dia juga kawan berbagi cerita soal buku dan tulisan. Gadis Nias yang
lagi rajin-rajinnya menabung untuk proyek “sama dia” ini rajin sekali mengirimi
saya update berita tentang
lomba-lomba menulis atau link tulisan-tulisan menarik.
Beberapa waktu yang lalu dia “menerbitkan” novelnya di
Gramedia Writing Project. Saya melihat itu sebagai bentuk sisi lain dirinya
karena sehari-harinya ia “sibuk” menjadi penulis di majalah Bahana. Tiba-tiba tebersit pengin
memberikan surprise, sesuatu biar dia lebih pede dan lebih rajin menulis novel.
Hhhmmm, apa ya? Apalagi kalau bukan buku, hehe.
Selamat ya
Len, kau jadi target 90 days project-ku. Haha. Semoga bermanfaat. Semoga
novelmu segera dipinang oleh Gramedia dan menemukan rumahnya. Amiiiiinnn.
Love u
![]() |
| Untung sempat motret ^_^ |
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
buku
,
fiksi
,
friendzone
,
menulis
Kamis, 16 Oktober 2014
90 Days Project
Kira-kira akhir September kemarin, seorang teman membagikan postingan yang sangat menarik dari medium tentang “there are 100 days left in 2014”. Leni, terima kasih sudah berbagi. Dalam tulisan itu penulis mengundang kita untuk melakukan sesuatu sebelum 2014 berakhir, there are 100 days left in 2014. What will you do with them?
Penerapannya bisa sangat bervariasi. Contohnya, postingan di
fearbuster tentang “100 Days of Rejection”. Dia membuat 100 permintaan yang dia tahu bakal ditolak. Wiiihhh.
Sebuah cara pendewasaan diri yang unik.
Teman saya Leni sudah memulai 100 Days Project-nya. Dan saya
memulai proyek 90 Days Project. Pengennya
membuat 100 Days Project, tapi 2014 hanya tinggal 3 bulan saja. Hehe.
Proyek ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal bulan ini
(Oktober), tapi baru sempat posting sekarang. *alasan* hehe. Idenya sederhana, its about enjoying the new little things.
Melakukan hal-hal baru dan sederhana yang belum pernah dilakukan atau yang
sudah lama tidak lagi dilakukan.
Mengapa tergerak ikut
membuat proyek akhir tahun? Belajar dari sebuah perjalanan (setidaknya
perjalanan saya), perjalanan pulang biasanya lebih diwarnai dengan tidur
kelelahan dan melewatkan pemandangan dari sisi lain kendaraan. Pun, mengakhiri
tahun biasanya saya lebih banyak santai, sibuk melihat ke belakang, dan
berhitung, sering abai bahwa masih ada beberapa hari sampai akhir tahun yang
sama berharganya dengan hari-hari lain yang sudah berlalu. Juga supaya saya
belajar bagaimana memiliki semangat yang sama besarnya dengan ketika memulai
tahun ini. Dan yang terpenting adalah menikmati prosesnya.
Mengapa “enjoying the new little things? Mencurahkan
perhatian pada hal-hal kecil yang tidak mendesak (dan tidak masalah jika tidak
dilakukan, apalagi tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan pribadi kita) perlu
tekad kuat. Saya yakin ada hal besar yang dibawa bersamanya. Musti dicoba.
Isinya apa saja? Detailnya tentu saja belum tahu karena
berusaha mengalir aja. Tapi garis besarnya adalah dekat dengan keseharian. Saya
mungkin akan menandainya dengan hashtag tertentu, misalnya:
#mengenal_lebih_dekat
#kuliner
#perjalanan
#keluarga
#friendzone
#buku
#lagu
#skill
#be_wise
Mengapa ada deadline-nya? Mungkin ini adalah
efek dari terlalu seringnya bekerja dengan tenggat waktu dan target. #ups.
Sebenarnya bukan semata-mata itu. Belajar dari pengalaman, deadline dan target membuat saya lebih fokus, lebih mudah menepis
godaan yang membuat saya keluar dari target. Namun, pembelajaran besarnya, di
atas semua itu, adalah menepati janji kepada diri sendiri.
Sanggupkah? Hopefully, yes!
Mazel tov! *tepuk_pundak_sendiri*
Label:
90 Days Project
,
akhir tahun
,
friendzone
,
keluarga
,
perjalanan
,
proyek
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





