#todaywisdom
People are more than just the way they look.
—(dari A Wrinkle in Time)
Belakangan ini saya lagi suka banget sama quote itu. People are more than just the way they look.
Mengingatkan saya untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari penampilannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan (bukan menyembunyikan) banyak hal di balik ketenangannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kepedihan di balik keceriaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kebaikan di balik kecuekannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan banyak kemampuan di balik kesederhanaannya.
Ada orang yang ternyata menyimpan cinta yang begitu besar hanya saja tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Ada yang ternyata menyimpan ketulusan besar meskipun tidak ada yang memahaminya.
Everybody has a chapter they don't read out loud.
.
.
.
.
Tampilkan postingan dengan label kawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kawan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Juli 2017
People are ...
Label:
catatan perjalanan
,
friendzone
,
kawan
,
today wisdom
Jumat, 29 April 2016
Ada Apa [dengan] Cintaaaaa?
Lagi banyak yang baper karena #AADC2. Ini yang posting salah satunya. haha.
Belum nonton juga sih, tapi banyak bocoran di sana-sini. AADC shows that people who are meant together will always find their way back. Even after 14 years.
Jadiiiii ... segala sesuatu ada waktunya. Jadiiii ... tidak perlu terlalu memaksakan diri. hehehe.
*ngebet.pengen.nonton*
Belum nonton juga sih, tapi banyak bocoran di sana-sini. AADC shows that people who are meant together will always find their way back. Even after 14 years.
Jadiiiii ... segala sesuatu ada waktunya. Jadiiii ... tidak perlu terlalu memaksakan diri. hehehe.
*ngebet.pengen.nonton*
Minggu, 24 April 2016
Mengenal Itu Awal Mencintai
#todaywisdom
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
Minggu kemarin mendapat "hidangan sarapan" yang menarik sekaligus menantang: "mengenal itu awal mencintai". Mengapa menantang? Kita simpan dulu pertanyaan ini.
Mengenal seseorang bukan berarti sekadar mengenal nama. Mengenal seseorang secara mendalam berarti mengetahui harapan, ambisi, impian, kecemasan, hal-hal yang disukai, dan hal-hal yang dibencinya. Kita bisa tahu penampilannya secara fisik, karakter secara umum, gaya hidup, kondisi keluarganya, pasangannya, bakat, hobi, sahabatnya, bahkan mungkin hal-hal yang sedang menjadi pergumulan atau masalah yang sedang dihadapi.
Di lingkungan tempat saya bekerja, misalnya, tempat di mana "keluarga saya yang lain" berada. Tempat duduk saya tepat membelakangi pintu masuk ruangan departemen. Otomatis saya tidak melihat siapa saja yang masuk, kecuali saya pasang spion di dekat monitor komputer, atau cctv sekalian *hallah*.
Seiring waktu, saya nyaris hafal semua langkah kaki orang-orang di ruangan saya. Kalau saya sedang penat dengan pekerjaan atau mengantuk maksimal, saya sering kali membuat games untuk diri saya sendiri: menebak langkah kaki orang yang sedang memasuki ruangan. Dari yang langkahnya ringan, berat, sampai yang menyeret sandal atau sepatu.
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
Minggu kemarin mendapat "hidangan sarapan" yang menarik sekaligus menantang: "mengenal itu awal mencintai". Mengapa menantang? Kita simpan dulu pertanyaan ini.
Mengenal seseorang bukan berarti sekadar mengenal nama. Mengenal seseorang secara mendalam berarti mengetahui harapan, ambisi, impian, kecemasan, hal-hal yang disukai, dan hal-hal yang dibencinya. Kita bisa tahu penampilannya secara fisik, karakter secara umum, gaya hidup, kondisi keluarganya, pasangannya, bakat, hobi, sahabatnya, bahkan mungkin hal-hal yang sedang menjadi pergumulan atau masalah yang sedang dihadapi.
Di lingkungan tempat saya bekerja, misalnya, tempat di mana "keluarga saya yang lain" berada. Tempat duduk saya tepat membelakangi pintu masuk ruangan departemen. Otomatis saya tidak melihat siapa saja yang masuk, kecuali saya pasang spion di dekat monitor komputer, atau cctv sekalian *hallah*.
Seiring waktu, saya nyaris hafal semua langkah kaki orang-orang di ruangan saya. Kalau saya sedang penat dengan pekerjaan atau mengantuk maksimal, saya sering kali membuat games untuk diri saya sendiri: menebak langkah kaki orang yang sedang memasuki ruangan. Dari yang langkahnya ringan, berat, sampai yang menyeret sandal atau sepatu.
Minggu, 11 Oktober 2015
Dari Kentut Sampai Rol Rambut
#manusia.yang.terbuat.dari.semangat
“Kalau kau sudah bisa kentut tanpa merasa bersalah di dekat seseorang, dia adalah saudaramu.”
Pernah
mendengar ungkapan itu? Adalah Arip Syaman yang mengatakan semua itu kepada
sahabatnya, Twosocks. Mereka berdua bersahabat dan menjadi teman sejalan yang
[dalam pembacaan saya] asyik. Arip Syaman hobi buang gas, bahkan kadang dengan
membabi buta, dan Twosocks menerima
kebiasaan ganjil sahabatnya itu dengan tabah (hehehe). Penggalan kisah
perjalanan dalam buku The Dusty Sneakers tersebut
mengingatkan saya bahwa “sahabat yang ganjil” pun bisa membuat perjalanan
(baca: kehidupan) kita ganjil, tetapi menyenangkan, bahkan sangat bisa
dinikmati, tidak betul-betul nelangsa (meminjam istilah Twosocks).
Seorang
teman di kantor menyampaikan hal yang mirip itu ketika ia melihat teman kami
yang lain memakai rol rambut di kantor. Katanya, “Setiap kali melihat ada orang
melakukan ‘kebiasaan rumahnya’, aku seperti menjadi bagian hidup orang itu.”
Kira-kira begitu.
Dua hal di
atas tak serupa, tetapi menyampaikan pesan yang nyaris sama. Sungguh
menyenangkan ketika kita menemukan teman dan sahabat yang dengannya kita
benar-benar merasa nyaman, bahkan nyaman melakukan hal-hal yang tidak akan kita
lakukan di depan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak akan kita ucapkan
dengan leluasa di depan orang lain. Kita memilih dia (dan dia memilih kita).
Ada “jenis
teman” yang bersamanya kita sanggup melakukan hal-hal besar sekaligus juga
hal-hal yang memalukan; teman yang bisa memunculkan sisi terbaik kita,
sekaligus sisi terburuk kita (dan kita bahkan tidak merasa malu atau sungkan
menunjukkannya). Teman yang bersamanya kita sanggup memaki dan rela dimaki, tetapi
kemudian saling menghibur dan saling memeluk.
Persahabatan
kita tidak harus seperti Old Shatterhand & Winnetou yang persabahatannya
“diikat dengan darah”. Namun, setidaknya bersamanya kita bisa banyak tertawa
dan merayakan hidup. Dan yang juga penting, bersama kita, dia bisa banyak
tertawa dan merayakan hidup.
Label:
friendzone
,
hidup
,
kawan
,
manusia yang terbuat dari semangat
,
perjalanan
,
sahabat
Rabu, 12 Agustus 2015
Nyaman dengan Diri Sendiri
#manusia yang terbuat dari semangat
Apakah Anda punya
teman atau pernah bertemu dengan seseorang yang tidak pernah tampil berlebihan,
tetapi selalu terlihat menarik? Atau, apakah Anda mengenal seseorang yang
selalu habis-habisan meng-update
penampilan, tetapi Anda melihatnya biasa-biasa saja?
Atau, mari kita
melihat diri masing-masing, kita lebih mirip orang pertama atau orang kedua?
Kalau saya lebih memilih menjadi orang pertama. Bukan apa-apa sih, orang
pertama biasanya punya pembawaan yang asyik, dan yang lebih penting orang yang
demikian biasanya biaya operasionalnya tidak tinggi. Haha *hallah.abaikan*
Salah satu faktor X
yang membuat seseorang terlihat istimewa di mata orang lain dan percaya diri
adalah ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Maksud saya “nyaman dengan diri
sendiri” bukan berarti orang yang sok
pede dengan penampilannya. “Nyaman dengan diri sendiri” yang saya maksudkan
adalah ia tidak merasa menjadi seseorang yang terjebak dalam tubuh orang lain.
Ia menerima keberadaan dirinya. Ia sungguh-sungguh merasakan kehadiran setiap
detail bagian tubuhnya dan menghargainya. Ia menikmati hidupnya.
Pada satu masa dalam
kehidupan, saya pernah menjadi seseorang yang selalu dihinggapi kekhawatiran,
mudah diserang khawatir. Khawatir akan segala hal; akan kesehatan saya, akan
masa depan saya, akan pendidikan saya, akan kondisi keuangan saya, akan
orangtua saya, akan pekerjaan saya, bahkan parahnya akan penampilan saya. Pada masa-masa itu, rasanya waktu saya habis untuk mengkhawatirkan banyak hal.
Di sisi lain, ada
teman saya yang setiap hari berjumpa dengan saya yang dalam pandangan saya dia
“seperti tidak pernah punya masalah”, padahal fisiknya lumayan lemah, sering
jatuh sakit, flu tulang lagi sakitnya. Herannya, dia “punya banyak waktu” untuk
tertawa dan mengobrol dengan orang lain. Bahkan dia sepertinya tidak pernah
mempermasalahkan segala sesuatu. Dia benar-benar santai, benar-benar menikmati
hidupnya. Dan tebak, meskipun saya tahu dulu nilai sekolah dia pas-pasan,
sekarang dia sudah sangat mapan dalam pekerjaannya dan nyaman dengan kehidupan
keluarganya.
Dia punya faktor X
yang tadi saya sebutkan.
Mari kita mulai menikmati keberadaan dan kehidupan kita. Semangat!
Minggu, 21 Desember 2014
90 Days Project — Berempat
#friendzone
Rasanya ini tulisan pertama tentang kami berempat. Empat
perempuan yang menyatakan diri sahabat bagi yang lain. Sahabat yang bersama
mereka kami tidak takut berbagi mimpi. Sahabat yang tak pernah berjumpa, tapi
tak pernah abai menuang doa. Sahabat yang saling meyakinkan bahwa seorang ibu
pun perlu menjadi diri sendiri dan mengejar mimpi.
Sebenarnya kami pernah bekerja di tempat yang sama meskipun
berbeda departemen. Seiring waktu, masing-masing mempunyai pertimbangan dan
keputusan yang berbeda, sampai kemudian kami terpisah di empat tempat yang
berbeda. Namun, siapa sangka, jarak yang memisahkan justru membuat kami saling
menemukan. Jarak yang ternyata malah membuat kami semakin dekat sampai saat
ini.
Masing-masing kami adalah seorang ibu dan seorang istri
dengan dinamika yang berbeda-beda, tetapi disatukan dalam perjalanan sunyi:
menulis. Pertemanan kami
membentangkan banyak informasi, kesempatan, dan pembelajaran karena menjadi
istri dan ibu, sekaligus memiliki pekerjaan dan menulis, adalah tantangan yang
seru.
Yang unik dan saya suka dari pertemanan kami adalah masing-masing kami
punya simbol. Simbol yang selalu menjadi inspirasi dan semangat bagi masing-masing dan bagi lainnya. Kupu-kupu,
capung, burung kecil, dan pohon. Dan mereka berempat akan memiliki kisahnya sendiri-sendiri.
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
friendzone
,
kawan
Senin, 03 November 2014
90 Days Project — "Mengabulkan" Keinginan Teman
#friendzone
Proyek yang satu ini seru ternyata. Memang bukan sesuatu
yang besar dan serius sebenarnya, tetapi begitu melakukannya, ada kebahagiaan tersendiri.
Suatu hari waktu membuka laman Facebook, ada seorang teman
kantor yang membuat status bahwa ia pengin banget makan bubur sumsum. Ia sudah
mencari ke beberapa tempat, tetapi belum bisa menemukan.
Pas baca statusnya itu, entah bagaimana saya seperti
tergelitik untuk “mengabulkan” keinginannya. Apalagi dia sedang hamil. Hehe.
Gayung bersambut. Saya cek ke dapur di rumah ternyata
bahan-bahannya ada karena bahan untuk membuat bubur sumsum memang sederhana;
hanya tepung beras, santan, gula jawa, gula pasir, daun pandan. Dan bahan-bahan
itu sehari-harinya memang sudah tersedia di dapur, jadi saya tidak perlu
bingung-bingung belanja.
Pagi harinya, saya sengaja bangun lebih pagi dan memasak
bubur sumsum sebisa saya. Hehe.
Begitu sampai kantor, saya langsung mencarinya dan memberikan
bubur sumsum itu kepadanya. Senang rasanya melihat ekspresi wajahnya.
Melihat kebahagiaan kecil di wajahnya menjadi kebahagiaan besar dalam hati saya.
Melihat kebahagiaan kecil di wajahnya menjadi kebahagiaan besar dalam hati saya.
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
kawan
Kamis, 23 Oktober 2014
90 Days Project — Mengunjungi Kawan "Lama"
Saya mempunyai seorang kawan baik yang sudah sangat lama kami tidak saling ketemu, apalagi berkunjung ke rumahnya. Dulu waktu masih tinggal sekota saja saya jarang sekali main ke rumahnya, apalagi sekarang kami beda kota.
Awal Minggu kemarin, sepulang dari menghadiri resepsi seorang teman yang lain, saya (dan suami) sengaja menyempatkan "dolan" ke rumahnya, temu kangen dan sekalian mengobrol dengan ayah ibunya. Kami juga kenal baik dengan orangtuanya.
Hampir kesasar kami mencari rumahnya karena tampilan depannya sudah sangat berubah. Bagian depan rumahnya yang dulu tanah berbatu-batu sekarang sudah ditutup dengan konblok dan semen. Dari luar memang sangat terasa panasnya, tetapi begitu masuk ke rumah, tidak berubah. Masih seperti dulu. Ruangan dalam rumah sederhana itu memancarkan hawa sejuk seperti terakhir kali kami berkunjung. Pasti kami benar-benar sudah sangat lama tidak berkunjung sampai-sampai ibu pangling melihat saya. Hiks.
Dan masih seperti dulu juga, meja ruang tamu selalu ada makanan tradisional. Kemarin ada tahu goreng, mendut, pisang goreng. Duh apalagi ya kemarin. Saya sih langsung nyomot mendut karena sudah lama tidak berjumpa dengan makanan yang dibuat dari ketan dan diisi dengan kelapa parut manis itu. Kalau tidak habis njagong mungkin saya sudah habis 3. Hehehe.
Dan masih seperti dulu juga, ayah ibu sangat ramah dan akrab, membuat siapa pun yang datang merasa sangat diterima. Obrolan ngalor ngidul yang sederhana selalu berujung pada nasihat bijak laiknya orangtua kepada anak-anaknya, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang orangtua dan anak, tentang jodoh, tentang kebahagiaan.
"Orang bisa saja punya 10 pesawat terbang. Silakan. Tapi saya tetap bahagia dengan ke mana-mana naik sepeda. Bahagia itu timbul dari hati kok." Begitu katanya, yang langsung diiyakan oleh istrinya. Ah, kompak sekali mereka. Anaknya yang duduk di sebelahnya manggut-manggut sambil senyum-senyum. Entah apa artinya. hehehe.
Obrolan masih berlanjut sampai menjelang sore. Kami "dipaksa" makan (lagiii?) dan tetap terasa nikmat, habis banyak lagi. Lele goreng, sambel goreng krecek, kerupuk udang, semangka, tahu goreng. Ya ampun, seharian itu entah saya makan berapa kali. Ah, gak papa, yang penting hari itu banyak ilmu. Kapan-kapan ke sana lagi ah. #weits
Awal Minggu kemarin, sepulang dari menghadiri resepsi seorang teman yang lain, saya (dan suami) sengaja menyempatkan "dolan" ke rumahnya, temu kangen dan sekalian mengobrol dengan ayah ibunya. Kami juga kenal baik dengan orangtuanya.
Hampir kesasar kami mencari rumahnya karena tampilan depannya sudah sangat berubah. Bagian depan rumahnya yang dulu tanah berbatu-batu sekarang sudah ditutup dengan konblok dan semen. Dari luar memang sangat terasa panasnya, tetapi begitu masuk ke rumah, tidak berubah. Masih seperti dulu. Ruangan dalam rumah sederhana itu memancarkan hawa sejuk seperti terakhir kali kami berkunjung. Pasti kami benar-benar sudah sangat lama tidak berkunjung sampai-sampai ibu pangling melihat saya. Hiks.
Dan masih seperti dulu juga, meja ruang tamu selalu ada makanan tradisional. Kemarin ada tahu goreng, mendut, pisang goreng. Duh apalagi ya kemarin. Saya sih langsung nyomot mendut karena sudah lama tidak berjumpa dengan makanan yang dibuat dari ketan dan diisi dengan kelapa parut manis itu. Kalau tidak habis njagong mungkin saya sudah habis 3. Hehehe.
Dan masih seperti dulu juga, ayah ibu sangat ramah dan akrab, membuat siapa pun yang datang merasa sangat diterima. Obrolan ngalor ngidul yang sederhana selalu berujung pada nasihat bijak laiknya orangtua kepada anak-anaknya, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang orangtua dan anak, tentang jodoh, tentang kebahagiaan.
"Orang bisa saja punya 10 pesawat terbang. Silakan. Tapi saya tetap bahagia dengan ke mana-mana naik sepeda. Bahagia itu timbul dari hati kok." Begitu katanya, yang langsung diiyakan oleh istrinya. Ah, kompak sekali mereka. Anaknya yang duduk di sebelahnya manggut-manggut sambil senyum-senyum. Entah apa artinya. hehehe.
Obrolan masih berlanjut sampai menjelang sore. Kami "dipaksa" makan (lagiii?) dan tetap terasa nikmat, habis banyak lagi. Lele goreng, sambel goreng krecek, kerupuk udang, semangka, tahu goreng. Ya ampun, seharian itu entah saya makan berapa kali. Ah, gak papa, yang penting hari itu banyak ilmu. Kapan-kapan ke sana lagi ah. #weits
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
kawan
,
pelajaran
,
perjalanan
Rabu, 22 Oktober 2014
90 Days Project — Ultah Unyu-unyu
#friendzone
Seneng banget bisa ikut datang ke rumah teman kantor dan
merayakan ulang tahunnya. Doa bersama dan makan bersama. Entah kapan terakhir kali "berjumpa" dengan acara seperti ini; rasanya sudah lamaaa
sekali. Kalau ada yang ulang tahun, sering kali acaranya makan-makan di kantor.
Suasananya jadi berbeda ketika dirayakan di rumah, apalagi saya belum pernah main
ke rumahnya.
Ternyata rumahnya jauh euy.
Meskipun pakai acara kesasar dan sampai datang terlambat, semua itu tidak
mengurangi kebahagiaan. *hallah*
![]() |
Duh, kabur. Ini dia yang ultah. Namanya Christy.
Selama acara, ia wajib pake bando unyu-unyu dari kami. |
![]() |
| Ibu yang sangat dicinta, pinter masak pula. Hehe. |
![]() |
Menu ultah: coto Makasar yang uenak. Saya habis 2 mangkok. Ups.
Sebenere ada es buah juga. Tapi ya gitu deh, kalau udah laper, jadi lupa motret. :D
|
![]() |
| Teman-teman senasib sepenanggungan menghabiskan soto dan es buah. Kalau full team, jauh lebih rame dari ini. Love u. |
Habede, Christy. Kapan ultah lagi? :-p
Label:
90 Days Project
,
a new little thing
,
akhir tahun
,
kawan
,
keluarga
,
ulang tahun
Rabu, 21 Mei 2014
Lean On Me
Adem rasanya .... ^_^
Sometimes in our lives
We all have pain
We all have sorrow
But if we are wise
We know that there's always tomorrow
Lean on me!
When you're not strong
And I'll be your friend
I'll help you carry on
For it won't be long
'Till I'm gonna need
Somebody to lean on
Please! (please)
Swallow your pride (pride)
If I have things
You need to borrow
(For) for no one can fill
Those of your needs
That you wont let show
So just call on me brother
When you need a hand
We all need somebody to lean on!
I just might have a problem that you'll understand
We all need somebody to lean on!
Lean on me
When you're not strong
I'll be your friend
I'll help you carry on
For it wont be long
'Till I'm gonna need somebody to lean on
[ Lyrics from: http://www.lyricsty.com/glee-lean-on-me-lyrics.html ]
So just call on me brother
When you need a hand
We all need somebody to lean on!
I just might have a problem that you'll understand
We all need somebody to lean on!
If
There is a load!
You have to bare
That you can't carry
I'm right up the road
I'll share your load
If you just call me
Call me (I'm calling)
Call me (when you need a friend)
Call me (call me)
Call me (call me) (when you need a friend)
Call me (when you need a friend)
Call me (if you need a friend)
Call me (any time of day
Call me
It won't be long till I'm Gonna need somebody to lean on, lean on, lean on
Lean on lean on lean on me when you need a friend
Lean on lean on lean on me lean on me
Lean on lean on lean on me
I'm gonna need (somebody) somebody to lean on
I'm gonna need somebody to lean on (somebody to lean on)
Yeah
Sometimes in our lives
We all have pain
We all have sorrow
But if we are wise
We know that there's always tomorrow
Lean on me!
When you're not strong
And I'll be your friend
I'll help you carry on
For it won't be long
'Till I'm gonna need
Somebody to lean on
Please! (please)
Swallow your pride (pride)
If I have things
You need to borrow
(For) for no one can fill
Those of your needs
That you wont let show
So just call on me brother
When you need a hand
We all need somebody to lean on!
I just might have a problem that you'll understand
We all need somebody to lean on!
Lean on me
When you're not strong
I'll be your friend
I'll help you carry on
For it wont be long
'Till I'm gonna need somebody to lean on
[ Lyrics from: http://www.lyricsty.com/glee-lean-on-me-lyrics.html ]
So just call on me brother
When you need a hand
We all need somebody to lean on!
I just might have a problem that you'll understand
We all need somebody to lean on!
If
There is a load!
You have to bare
That you can't carry
I'm right up the road
I'll share your load
If you just call me
Call me (I'm calling)
Call me (when you need a friend)
Call me (call me)
Call me (call me) (when you need a friend)
Call me (when you need a friend)
Call me (if you need a friend)
Call me (any time of day
Call me
It won't be long till I'm Gonna need somebody to lean on, lean on, lean on
Lean on lean on lean on me when you need a friend
Lean on lean on lean on me lean on me
Lean on lean on lean on me
I'm gonna need (somebody) somebody to lean on
I'm gonna need somebody to lean on (somebody to lean on)
Yeah
Kamis, 16 Januari 2014
Teman Takkan Hilang
Jarak boleh menjauhkan, tetapi waktu akan semakin mendekatkan.
Amajing rasanya bertemu teman-teman lama. Teman-teman yang sebagian tidak kukenal lama, tetapi mengingatku dan mengundangku datang, mengingatku sebagai bagian dari keluarga meskipun anak bungsu ^_^.
Waktu boleh membuat foto usang, tetapi kisah di dalamnya semakin layak dikenang.
Memandang wajah mereka lagi satu per satu membuat waktu berjalan mundur dan tiba-tiba semua peristiwa seperti mengambang dan jelas terpampang. Ternyata banyak sekali yang berubah. Wajah yang sama, keceriaan yang sama, tetapi ukuran tubuh berbeda (hehehe), mengembang ke kanan dan kiri, menjadi berkat *hallah*. Dan yang paling penting adalah kedewasaan yang semakin ranum dan harum (si anak bungsu masih berproses menuju ke sana ^_^).
Bangga memiliki kalian, meyakinkan bahwa teman takkan hilang.
Amajing rasanya bertemu teman-teman lama. Teman-teman yang sebagian tidak kukenal lama, tetapi mengingatku dan mengundangku datang, mengingatku sebagai bagian dari keluarga meskipun anak bungsu ^_^.
Waktu boleh membuat foto usang, tetapi kisah di dalamnya semakin layak dikenang.
Memandang wajah mereka lagi satu per satu membuat waktu berjalan mundur dan tiba-tiba semua peristiwa seperti mengambang dan jelas terpampang. Ternyata banyak sekali yang berubah. Wajah yang sama, keceriaan yang sama, tetapi ukuran tubuh berbeda (hehehe), mengembang ke kanan dan kiri, menjadi berkat *hallah*. Dan yang paling penting adalah kedewasaan yang semakin ranum dan harum (si anak bungsu masih berproses menuju ke sana ^_^).
Bangga memiliki kalian, meyakinkan bahwa teman takkan hilang.
![]() |
| West Lake Resto, 14 Januari 2014 |
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








