Minggu, 19 Oktober 2014

90 Days Project — Mengobrol dengan Tukang Cukur


#mengenal_lebih_dekat

Mengobrol dengan tukang cukur? Nyaris tidak percaya saya bisa melakukannya. Hehe. Termasuk dalam kelompok orang yang sangat sulit memulai sebuah obrolan, apalagi dengan orang tak dikenal, mengobrol dengan tukang cukur adalah prestasi untuk saya. *acak.rambut.sendiri* 

Ditambah lagi, seumur hidup, saya belum pernah mendatangi tempat cukur rambut cowok. Tidak punya saudara kandung laki-laki membuat saya sangat asing dengan tempat itu. Daaaan, selama punya suami, saya juga tidak pernah ikut ke tukang cukur. Parahnyaaa, saya bahkan belum pernah mengantar anak lanang saya cukur rambut. Dia selalu berangkat dengan Embah Kakungnya. Hikss. Jangan ditiruuuuu. :D

Dalam 90 Days Project, saya memberikan tantangan kepada diri sendiri untuk membalik keparahan saya itu. Saya menawarkan diri menemani suami dan anak lanang cukur rambut (merasa hebat, padahal biasa aja, hehe).

Dan berangkatlah kami ke tukang cukur—tukang cukur yang juga belum pernah didatangi oleh suami. Sampai di depan kios (bener nggak ya istilahnya?), saya menambahkan tantangan kepada diri sendiri: mengobrol dengan tukang cukurnya.

Singkat cerita, maju tak gentar, pokoke. Dan …. berhasil, berhasil, hore (jingle Dora The Explorer). Dari obrolan itu saya tahu bahwa si bapak itu sudah 15 tahun menjadi tukang cukur rambut cowok. Dan rupanya kios berukuran kira-kira 3x3 meter itu baru 1 bulan buka. Saya sempat melirik tulisan kecil di atas pintu, 9-9-2014. Mungkin itu sebagai pengingat tanggal ketika kios itu pertama kali dibuka.

Sebelumnya, dia membuka kios cukur rambut di Jogja. Karena urusan keluarga, dia harus hijrah bersama istri dan kedua anaknya keluar dari Jogja ke Klaten. Saya membayangkan, pasti bukan hal yang mudah meninggalkan kenyamanan di tempat tinggal sebelumnya.

Selama satu bulan buka, ia mengaku belum banyak orang yang datang untuk bercukur di kiosnya. Apalagi dia hanya bisa membuka kiosnya dari siang hingga malam karena pagi harinya dia berdagang tahu bakso. Sungguh seorang ayah pejuang.

Hebatnya lagi, dalam perjuangannya membuka usaha di tempat yang baru, ia menyimpan kepedulian yang besar kepada temannya. Saya tahu hal itu begitu saya tanya soal mesin jahit yang ada di sudut ruangan kios. Rupanya ia berbagi ruangan kios dengan temannya untuk membuka usaha vermak jeans. Tanpa bayar. Wow. Meskipun usaha vermak jeans belum jalan dan usaha cukur rambutnya masih belum lancar, dalam hati saya berdoa sungguh, ada jalan-jalan terbuka bagi mereka, dan kios mereka semakin ramai. Amiiiiiinnn.

Sore yang indah dan banyak pelajaran untuk saya.

Hanya saja, saya lupa tanya nama bapak ituuu ….. *tepok.jidat*

Tidak ada komentar :

Posting Komentar