Selasa, 03 Februari 2015

Cuma Bau

#manusia yang terbuat dari semangat



Patrick: “SpongeBob, kita jelek. Huhuhu.”
SpongeBob: “Kita tidak jelek, Patrick. Kita cuma bau.”

***

Hal yang saya suka dari film SpongeBob (meskipun saya tidak setiap hari nonton) adalah dialognya yang sederhana, bahkan konyol, tetapi menjadi semacam senggolan yang cukup keras untuk kita, untuk saya. Dialog di atas adalah salah satu dialog yang menancap di kepala, hanya saja saya lupa dialog tersebut ada dalam episode apa.

Ungkapan “Kita tidak jelek. Kita cuma bau.” menjadi senggolan yang kontemplatif bahwa memang ada hal-hal buruk dalam kehidupan kita, hal-hal yang tidak kita inginkan, yang tidak kita harapkan. Namun, di antara banyak hal yang tidak kita inginkan, tersembunyi banyak hal yang membuat kita bisa bersyukur. Hal-hal kecil yang mungkin luput dari hitung-hitungan kita, seperti mata yang sehat, telinga yang bekerja dengan baik, pembuluh darah yang fit yang membuat kita tidak ketakutan menyantap makanan yang kita inginkan, pernapasan yang lancar, telinga yang bisa menangkap dengan baik suara pagi dan musik tetangga, kulit yang bisa merasakan segarnya air mandi, kaki yang bisa bebas berlarian. Hhhmmm … tak terkira banyaknya. 

Saya menulis ini bukan karena saya mahir atau terbiasa bersyukur. Justru sebaliknya, saya masih jatuh bangun. Bersyukur itu seperti sebuah keterampilan, yang bisa diasah dan dipertajam dengan banyak latihan. Dalam hal ini saya masih jauh dari “tajam”. Jatuh dalam keluhan sebenarnya tak masalah, yang penting adalah segera bangun untuk bersyukur. Jatuh dua kali, bangun tiga kali.

Katanya, orang yang paling bahagia adalah orang yang sanggup membuat semua keadaan menjadi kesempatan untuk bersyukur. Rasanya kita sulit menyangkal hal ini. Orang yang “terampil” bersyukur jelas lebih mudah merasa bahagia karena dia tidak menuntut persyaratan yang rumit untuk dirinya sendiri.

Saya masih dalam perjalanan menuju ke sana. Anda?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar